pada tanggal
Kesehatan & Mental Health
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pendidikan seharusnya menjadi fondasi untuk membentuk karakter, moral, dan intelektual generasi muda. Sayangnya, pendidikan di Indonesia semakin kabur arahannya. Setiap pergantian menteri pendidikan sering diikuti perubahan kurikulum besar-besaran, sehingga guru dan siswa bingung. Fokus pendidikan lebih pada materi daripada penginternalisasian nilai, etika, dan sopan santun.
Fenomena ini menimbulkan dampak jangka panjang: anak-anak terlatih menghafal dan mengikuti aturan formal, tetapi kurang memahami nilai Pancasila, etika, dan sopan santun, yang seharusnya menjadi inti pendidikan karakter.
Nilai Pancasila, Etika, dan Sopan Santun yang Mulai Hilang
Pancasila bukan sekadar teks di buku atau di dinding, tetapi harus menjadi pedoman moral, etika, dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari. Namun saat ini:
Akibatnya, nilai Pancasila, etika, dan sopan santun mulai terasing dari kehidupan anak-anak, padahal ini adalah fondasi moral bagi generasi emas 2045.
Kurikulum Berganti dan Pendidikan sebagai Pencitraan Politik
Perubahan kurikulum yang terlalu sering menimbulkan kebingungan guru dan siswa, sehingga pendidikan karakter dan etika menjadi terabaikan:
Dampak pada Generasi Emas 2045
Generasi emas 2045 diharapkan memiliki kualitas unggul: cerdas, kreatif, berkarakter, beretika, dan sopan. Namun dengan pendidikan yang kehilangan arah:
Potensi generasi emas menghadapi tantangan global melemah karena fondasi moral dan etika tidak kuat.
Baca juga : Hati-Hati di Era Scroll Tanpa Henti: Kesehatan Mental Juga Butuh Sinyal
Kenapa Kita Gak Boleh Malu Jualan
Solusi dan Harapan
Agar pendidikan kembali menjiwai karakter, etika, dan sopan santun, beberapa langkah penting:
1. Konsistensi Kurikulum Pendidikan
Fokus pada pengembangan karakter, kompetensi, etika, dan nilai Pancasila.
Perubahan kurikulum dilakukan berdasarkan evaluasi, bukan pergantian menteri semata.
2. Pendidikan Karakter, Etika, dan Sopan Santun Nyata
Praktik nilai Pancasila, etika, dan sopan santun dalam kegiatan sehari-hari, seperti kerja kelompok, gotong royong, debat kreatif, dan diskusi.
Anak belajar menghormati guru, teman, dan orang tua, serta memahami tanggung jawab sosial.
3. Peran Guru dan Orang Tua
Guru menjadi teladan etika dan sopan santun.
Orang tua mendukung penerapan nilai-nilai tersebut di rumah.
4. Evaluasi dan Monitoring Berkelanjutan
Pemerintah dan sekolah melakukan monitoring untuk memastikan pendidikan menanamkan karakter, etika, sopan santun, dan nilai Pancasila.
Kesimpulan
Pendidikan Indonesia sedang di persimpangan kritis: nilai Pancasila, etika, dan sopan santun lambat laun hanya menjadi formalitas. Kurikulum berganti-ganti dan pendidikan karakter yang tidak diaplikasikan mengancam kualitas generasi emas 2045.
Untuk membalik arah pendidikan:
Komentar
Posting Komentar