pada tanggal
Kesehatan & Mental Health
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Penulis Abd Rahman Ak
Pada 8–9 November 2025, Masjid Mahmudah, Gondrong, Kota Tangerang, dipenuhi gema suara lantunan Al-Qur’an yang lembut dan menyentuh hati.
Dalam rangka memperingati 100 tahun berdirinya Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia (1925–2025), digelarlah Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) bertema “Memancarkan Islam Penuh Cinta dan Kedamaian.”
Acara ini diikuti oleh sekitar 68 qori dan qoriah dari berbagai provinsi di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Mereka berasal dari beragam kalangan — mahasiswa universitas Islam, santri pondok pesantren, hingga masyarakat umum.
Beberapa peserta tercatat berasal dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta, UIN Walisongo Semarang, PTIQ Jakarta, dan Universitas Islam Indonesia (UII), dll.
Selain lomba tilawah, acara ini juga dirangkaikan dengan seminar dan pameran Al-Qur’an dari berbagai terjemahan bahasa di dunia, sebagai wujud nyata komitmen Muslim Ahmadiyah dalam memperkenalkan Islam yang damai dan universal melalui Al-Qur’an. ( Warta Ahmdiyya )
Al-Qur’an di Hati, Bukan Sekadar di Lisan
Setiap peserta tampil dengan ketenangan dan penghayatan mendalam. Mereka membaca ayat-ayat suci bukan sekadar untuk dinilai, tetapi untuk diresapi.
Dari mimbar panggung Masjid Mahmudah mikik Muslim Ahmdiyya, lantunan ayat demi ayat terdengar penuh makna — seakan menjawab banyak prasangka dengan keindahan bacaan itu sendiri.
Di tengah masyarakat modern yang kerap terjebak dalam debat dan klaim kebenaran, acara ini mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk dihayati dan diamalkan.
Menjawab Fitnah dengan Fakta
Selama bertahun-tahun, sebagian pihak yang tidak mengenal Jemaat Ahmadiyah sering menuduh bahwa komunitas ini memiliki “kitab suci lain,” dan menyebut Tazkirah sebagai “kitab suci Ahmadiyah.”
Tuduhan ini terus bergema, bahkan melahirkan kebencian dan persekusi terhadap para anggotanya. Bahkan mereka Muslim Ahmadiyya rela terusir dari kampung halamannya, kehilangan rumah, pekerjaan bahkan nyawa sekalipun
Namun, kenyataan yang tampak dari acara MTQN ini sungguh berbeda.
Seluruh kegiatan berpusat pada Al-Qur’an — dibaca, dilombakan, dikaji, dan dijadikan sumber inspirasi.
Bagaimana mungkin sebuah komunitas yang disebut memiliki kitab lain justru mengadakan Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional, di mana peserta dan panitianya bersatu dalam satu suara: “Al-Qur’an adalah pedoman hidup kami.”
Mereka tidak membalas kebencian dengan kemarahan, tapi dengan lantunan ayat-ayat suci yang menggema.
Mereka tidak menepis fitnah dengan perdebatan, tapi dengan bukti nyata kecintaan terhadap Al-Qur’an.
Ahmadiyah Konsisten Menerjemahkan Al-Qur’an ke Berbagai Bahasa Seluruh Dunia
Lebih dari satu abad, Jemaat Muslim Ahmadiyah telah menerjemahkan Al-Qur’an ke lebih dari 70 bahasa, termasuk bahasa Inggris, Jerman, Jepang, Prancis, Rusia, dan Indonesia.
Langkah ini bukan untuk mencari pengakuan, melainkan agar pesan damai Islam dapat dipahami oleh setiap manusia, tanpa sekat bangsa dan bahasa, menjadikan perinsip sebagai Islam Rahmatan Lil A'lamin.
Upaya ini sejalan dengan semangat MTQN — menghadirkan keindahan Al-Qur’an ke tengah masyarakat, bukan hanya melalui suara, tapi juga makna.
Dari sini, tampak jelas bahwa cinta terhadap Al-Qur’an bukan slogan, tapi warisan nyata yang terus dijaga oleh generasi Muslim Ahmadiyah dari masa ke masa.
MTQN: Bukti Cinta Terhadap Firman Allah
Acara ini bukan untuk membela diri di hadapan publik, melainkan ekspresi syukur atas petunjuk Allah yang abadi.
Ketika para peserta duduk di atas panggung mimbar, membaca ayat demi ayat dengan tartil dan khusyuk, mereka sedang mengatakan satu hal tanpa kata:
“Kami hidup bersama Al-Qur’an, dan Al-Qur’an hidup dalam diri kami.”
Inilah cara paling indah menjawab fitnah — bukan dengan debat panjang, tetapi dengan bukti kasih dan keindahan yang terpancar dari ayat-ayat Ilahi.
Menanamkan Nilai Damai di Tengah Kebencian
Tema “Memancarkan Islam Penuh Cinta dan Kedamaian” bukan sekadar slogan, tapi pesan moral di tengah dunia yang sering retak oleh prasangka.
Ketika sebagian orang menjadikan agama sebagai alat kebencian, MTQN ini justru menunjukkan wajah Islam yang lembut dan meneduhkan.
Dari Gondrong, lantunan ayat-ayat Al-Qur’an menggema bukan hanya untuk Muslim Ahmadiyah, tapi untuk Indonesia — menegaskan bahwa Islam sejati adalah rahmat bagi semesta alam.
Menyadarkan Tanpa Menyalahkan
Tulisan ini bukan pembelaan bagi satu golongan, melainkan pengingat bagi hati yang mencari kebenaran.
Terlalu sering kita menilai dari kabar yang tak utuh, potongan video, atau kata orang yang belum tentu kebenarannya. Padahal, jika mau datang dan melihat sendiri, kita akan tahu:
"tidak ada yang lebih suci di hati seorang Muslim sejati selain Al-Qur’anul Karim".
Seperti kata pepatah,
“Kebenaran tak butuh pembelaan; cukup hadir, dan ia akan bersinar.”
MTQN Lantunan yang Menyadarkan
MTQN 100 Tahun Muslim Ahmadiyah Indonesia di Masjid Mahmudah gondrong, bukan sekadar peringatan seratus tahun.
Ia adalah refleksi satu abad kesetiaan terhadap Al-Qur’an.
Dari Aceh hingga Papua, dari Muslim Ahmdiyya, mahasiswa, pesantren, hingga masyarakat Muslim lainnya, semua bersatu dalam satu kalimat suci:
“Kitab suci kami hanya satu — Al-Qur’anul Karim.”
Dan bagi siapa pun yang masih menyimpan prasangka, mungkin inilah saatnya untuk melihat dengan hati, bukan dengan kebencian.
Kilas Siaran MTQN ⬇️⬇️⬇️
Catatan Penulis:
Setiap fitnah mungkin memadamkan cahaya di mata manusia, tapi tidak pernah memadamkan cahaya kebenaran di hati orang beriman.
Dari Masjid Mahmudah Gondrong, lantunan Al-Qur’an di MTQN Muslim Ahmadiyah menjadi seruan lembut bagi bangsa ini:
Islam adalah cinta, dan cinta sejati tak pernah membenci.
Baca juga : Pendidikan yang Hilang Arah: Pancasila Sekadar Tempelan di Dinding bagi Generasi Emas 2045
Komentar
Posting Komentar