Belajar di Era AI: Antara Pintar, Malas, dan Hilangnya Rasa Penasaran



Ilustrasi guru sedang menganalisis belajar dengan bantuan AI di ruang kelas, mencerminkan tantangan pendidikan modern di era kecerdasan buatan.

Dunia sedang jatuh cinta pada kecerdasan buatan. Tapi ada satu ironi yang jarang disadari, di balik kecerdasan yang kita ciptakan, justru manusia perlahan berhenti untuk berpikir.

Dulu, anak-anak belajar dengan rasa ingin tahu yang polos. Mereka bertanya karena ingin mengerti, bukan karena disuruh tugas. Tapi kini, satu kalimat sederhana telah mengubah segalanya: “ChatGPT, tolong jelaskan ini buat aku.”

Mereka tidak lagi bertanya kepada guru, teman, atau bahkan diri sendiri. Mereka bertanya kepada mesin dan mesin selalu punya jawaban. Dunia terlihat makin pintar, tapi apakah manusia ikut naik level, atau justru sedang diam-diam turun derajatnya?

Kita hidup di zaman yang disebut “era kecerdasan buatan”. Ironisnya, justru di tengah kecerdasan itu, banyak manusia berhenti berpikir. AI mempermudah segalanya, dari mengerjakan PR, menulis esai, bahkan memberi ide kreatif untuk tugas seni. Tapi di balik semua kemudahan itu, ada bahaya halus yang tak terlihat, anak-anak mulai kehilangan proses belajar itu sendiri.

Karena sesungguhnya, yang membuat seseorang pintar bukan hasil akhirnya, tapi perjalanan berpikirnya.

Kemudahan yang Menipu

ketika siswa di sesekolah bahkan mulai dari anak SD pun, saat mereka diberi tugas contoh membuat karangan tentang pahlawan nasional. Dulu, ia akan membuka buku sejarah, menulis catatan, lalu menyusun kata demi kata dengan pikirannya sendiri. Sekarang? Ia tinggal mengetik “tuliskan karangan tentang Soekarno” dan dalam lima detik, tugasnya selesai.

Apakah itu salah? Tidak. Tapi apakah itu belajar? Belum tentu.

Kemudahan adalah kenikmatan, tapi juga jebakan. Karena otak manusia tumbuh lewat kesulitan, bukan kenyamanan. Ketika semua terlalu mudah, maka satu hal yang perlahan mati adalah rasa penasaran tentang ilmu pengetahuan yang tidak benar-benar di pamahami.

Anak yang tumbuh di era AI sering terlihat “cerdas”, nilai tugasnya bagus, bahasanya rapi, jawabannya cepat. Tapi jika ditanya tanpa bantuan layar, banyak yang gagap menjelaskan. Mereka tahu hasilnya, tapi tidak tahu mengapa hasil itu bisa muncul. Dan itulah awal dari kecerdasan semu.

Baca juga : Pendidikan yang Hilang Arah: Pancasila Sekadar Tempelan di Dinding bagi Generasi Emas 2045

AI: Kawan Hebat, Tapi Guru yang Dingin

AI memang menakjubkan. Ia tak pernah lelah menjawab. Ia bisa menjelaskan konsep fisika, memberi latihan soal, bahkan menulis puisi dengan gaya anak SMA.

Namun, AI tidak bisa mengajarkan rasa penasaran, kejujuran berpikir, dan kegigihan mencari jawaban.

Seorang guru manusia, ketika melihat muridnya salah, bisa berkata lembut dan mengarahkan dengan sikap, dengan mengatakan.

AI tidak melakukan itu. AI langsung memberi jawaban sempurna. Cepat, akurat, tapi tanpa proses berpikir. Dan di situlah letak persoalan.

Kalau manusia terbiasa disuapi jawaban, maka lama-lama ia tidak merasa perlu berpikir.

Kalau anak-anak terbiasa hanya menyalin hasil AI, maka kelak mereka mungkin akan kehilangan kemampuan paling penting dalam hidup, kemampuan untuk menciptakan sesuatu dari pikirannya sendiri.

Antara Pintar dan Produktif

Banyak orang tua bangga melihat anaknya “pintar teknologi”. Mereka bisa pakai AI untuk belajar, untuk bikin ringkasan buku, bahkan membantu coding. Tapi pertanyaannya: apakah mereka produktif atau hanya pintar meniru?

Anak yang produktif bukan sekadar tahu banyak, tapi bisa mencipta sesuatu dari apa yang dia tahu.

AI seharusnya bukan pengganti otak, tapi perpanjangan tangan otak.

Bukan menggantikan proses berpikir, tapi mempercepat hasil dari proses berpikir itu sendiri.

Sayangnya, banyak anak bahkan remaja sekarang lebih bangga bisa menemukan jawaban cepat daripada memahami proses panjang. Mereka terbiasa hidup dalam kecepatan, tapi kehilangan kedalaman.

Dan di dunia pendidikan, kecepatan tanpa kedalaman adalah bentuk kemunduran yang tenang.

Belajar Bukan Tentang Siapa yang Paling Cepat

AI bisa membuat anak-anak belajar lebih cepat, tapi bukan berarti lebih baik. Karena belajar sejatinya bukan perlombaan kecepatan, tapi perjalanan memahami makna.

Kalau semua serba instan, maka hasilnya juga instan, cepat datang, cepat hilang.

Mari kita renungkan, berapa banyak anak yang kini belajar sekadar untuk nilai, bukan untuk pengetahuan?

AI membuat mereka bisa menyelesaikan semua tugas, tapi tidak semua tugas itu menumbuhkan. Yang tumbuh justru rasa bergantung pada mesin, bukan pada diri sendiri.

Kalau dulu ada pepatah “malas bertanya sesat di jalan,” maka kini mungkin berubah jadi “terlalu mudah bertanya dan dapat jawab insan  malah kehilangan arah.”

Karena ketika semua jawaban bisa didapat dalam hitungan detik, manusia kehilangan seni dari sebuah pencarian.

AI Bukan Musuh Tapi Kita yang Harus Dewasa

AI bukan musuh. Justru, ia bisa menjadi sahabat luar biasa kalau digunakan dengan bijak. Masalahnya bukan pada teknologinya, tapi pada cara kita memakainya.

Kalau anak-anak hanya tahu bagaimana meminta jawaban, tapi tidak belajar bagaimana bertanya dengan benar, maka masa depan pendidikan akan kehilangan jiwanya.

Yang perlu diajarkan pada anak-anak bukan “jangan pakai AI”, tapi “pakailah AI untuk memperdalam, bukan menggantikan proses belajarmu.”

Gunakan AI untuk merangsang rasa ingin tahu, bukan untuk mematikan semangat bertanya.

Guru dan orang tua kini punya tantangan baru, bagaimana membuat anak tetap berpikir di tengah dunia yang ingin membuat segalanya otomatis.

Itu bukan hal mudah. Tapi jika gagal dilakukan, kita akan menciptakan generasi yang pintar secara data, tapi miskin secara makna.

AI adalah hasil dari kecerdasan manusia. Tapi ironisnya, kalau kita tidak hati-hati, AI juga bisa menjadi sebab manusia kehilangan kecerdasannya.

Anak-anak hari ini yang katanya akan menjadi generasi emas, di mana informasi bisa diakses tanpa batas. Tapi yang paling berharga bukanlah informasi, melainkan kesadaran bagaimana menggunakannya. Karena pada akhirnya, AI hanya memberi kita jawaban. Sementara kehidupan menuntut kita untuk menemukan makna.

Jadi, biarkan anak-anak memanfaatkan AI, tapi jangan biarkan mereka berhenti berpikir. Biarkan mereka belajar cepat, tapi jangan biarkan mereka melupakan nilai dari kesabaran.

Karena kecerdasan sejati bukan dari seberapa cepat kita tahu sesuatu, tapi dari seberapa dalam kita memahami dan menghidupinya.

AI bisa mencetak generasi yang cerdas di layar, tapi hanya manusia yang bisa mencetak generasi yang bijak di dunia nyata.

Dan itulah perbedaan antara pintar dan berpikir.

Baca juga : SMP Al-Wahid : Solusi Membentuk Generasi Berakhlak di Tengah Tantangan Zaman

Komentar