pada tanggal
Kesehatan & Mental Health
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Apakah benar agama dan ilmu pengetahuan selalu bertentangan, atau justru Filsafat Ajaran Islam bisa menjadi jembatan yang menyatukan keduanya? Pertanyaan ini masih relevan hingga hari ini. Banyak yang menganggap agama hanya berbicara soal dogma, sementara ilmu pengetahuan dianggap satu-satunya jalan menuju kebenaran. Namun, buku Filsafat Ajaran Islam karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (1835–1908) menghadirkan perspektif yang berbeda: bahwa Islam sejati adalah harmoni antara wahyu dan akal, antara spiritualitas dan sains.
Mengenal Buku Filsafat Ajaran Islam
Buku ini pertama kali disampaikan dalam bentuk esai oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad pada tahun 1896, dalam sebuah konferensi besar antaragama di Lahore, India. Esai ini kemudian dikenal dengan judul The Philosophy of the Teachings of Islam atau Filsafat Ajaran Islam.
Isi utama buku ini menjawab lima pertanyaan besar tentang manusia, agama, dan tujuan hidup:
Menariknya, jawaban yang diberikan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad tidak hanya berdasarkan Al-Qur’an, tetapi juga dijelaskan dengan logika, rasionalitas, dan analogi ilmiah.
Baca juga : Islam Tidak Mengajarkan Kekerasan: Menilik Buku Murder in the Name of Allah karya Khalifah Ahmadiyya
Agama dan Ilmu Pengetahuan: Musuh atau Sahabat?
Seringkali kita mendengar klaim bahwa “agama menghambat kemajuan sains.” Namun, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad menunjukkan sebaliknya. Menurut beliau:
" Agama tanpa ilmu hanyalah ritual kosong tanpa pemahaman "
Ilmu tanpa agama bisa kehilangan arah moral, melahirkan kesombongan dan penyalahgunaan pengetahuan.
Contoh nyata bisa kita lihat dalam perkembangan teknologi modern. Sains telah menciptakan internet, AI, bahkan energi nuklir. Tapi tanpa nilai spiritual, teknologi bisa dipakai untuk peperangan, kebohongan, atau penindasan. Inilah yang ditegaskan dalam Filsafat Ajaran Islam: Islam mengajarkan ilmu adalah cahaya, tapi cahaya itu butuh panduan wahyu agar tidak membakar.
Konsep Kunci dalam Filsafat Ajaran Islam
Beberapa gagasan penting yang membuat buku ini unik sekaligus relevan dengan dunia modern adalah:
Relevansi dengan Dunia Modern
Ketika sains modern semakin maju, justru muncul pertanyaan besar: Apa makna hidup? Apakah manusia hanya sekadar kumpulan atom?
Di sinilah Filsafat Ajaran Islam menjadi jembatan. Buku ini menegaskan bahwa sains memberi tahu kita bagaimana sesuatu terjadi, sementara agama menjawab mengapa sesuatu terjadi. Keduanya bukan musuh, melainkan dua sisi mata uang yang sama.
Misalnya :
Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dalam Filsafat Ajaran Islam memberikan kontribusi besar dalam dialog antara agama dan ilmu pengetahuan. Buku ini menjawab tudingan bahwa agama menghambat sains, dengan menunjukkan bahwa Islam sejati justru mendorong pencarian ilmu, sambil memberikan arah moral agar pengetahuan membawa manfaat, bukan kehancuran.
Agama dan ilmu bukanlah musuh. Mereka adalah sahabat yang saling melengkapi. Dengan memahami Filsafat Ajaran Islam, kita menemukan jembatan yang menghubungkan keduanya: logika dan wahyu, akal dan iman, sains dan spiritualitas.
Abd Rahman Ak
Panyairan
Sumber : Filsafat Ajaran Islam
Komentar
Posting Komentar