Ketika Viral Lebih Penting dari Moral: Bahaya Konten Tidak Berguna di Era Media Sosial

Penulis : Abd Rahman Ak

Sekelompok remaja Indonesia asyik berswafoto dan merekam video di lokasi kecelakaan seorang kake, sementara seorang pria tua tanpa ditolong. Gambar ini melambangkan menurunnya empati dan krisis moral di era media sosial.

Di era digital saat ini, kecepatan menjadi mata uang baru.
Satu klik bisa membuat seseorang terkenal, satu video bisa menjadikan orang biasa jadi selebritas dadakan.
Namun, di balik semua euforia itu, ada sesuatu yang perlahan hilang: moral dan etika kemanusiaan.

Kini, kita hidup di zaman di mana viral lebih penting daripada bernilai, dan popularitas lebih dicari daripada kebenaran.

Era Viral: Ketika Kecepatan Mengalahkan Kearifan

Dulu, orang dihormati karena kerja keras, ilmu, dan akhlaknya.
Sekarang, penghormatan datang dari jumlah follower dan seberapa cepat video mereka ditonton.

Faktanya, menurut data We Are Social 2025, rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari 3 jam per hari di media sosial.
Artinya, sebagian besar interaksi sosial kita sekarang terjadi di dunia maya — tempat di mana kecepatan, sensasi, dan eksistensi jadi ukuran keberhasilan.

Di sinilah masalahnya dimulai.
Banyak anak muda yang berlomba membuat konten tanpa peduli makna, asal ramai, asal ditonton, asal viral.
Dan algoritma yang seharusnya netral, malah ikut mendorong konten sensasional karena dianggap “menarik perhatian”.


Sensasi Lebih Menguntungkan daripada Substansi

Mari jujur, kalimat yang menyinggung lebih cepat viral daripada kalimat yang menenangkan.
Video yang menipu lebih banyak ditonton daripada video yang mendidik.
Itu fakta yang menyakitkan tapi nyata.

Menurut laporan Reuters Institute Digital News Report, berita palsu, prank ekstrem, dan drama sosial cenderung memiliki engagement rate 3 kali lebih tinggi dibanding konten edukatif.
Itu berarti, semakin aneh dan absurd kontennya, semakin tinggi peluangnya muncul di beranda kita.

Kondisi ini menciptakan budaya baru: kehebohan lebih penting daripada kebenaran.
Dan tanpa sadar, banyak orang mulai berpikir bahwa “asal viral, berarti hebat”, padahal mungkin yang disebarkan adalah kebodohan dan kebohongan.

Moral Anak Bangsa di Persimpangan

Mungkin inilah alasan kenapa kita sering merasa moral anak bangsa mulai hilang.
Bukan karena mereka tidak tahu mana yang benar, tapi karena mereka tumbuh di dunia yang lebih menghargai tampilan daripada isi.

Anak-anak yang dulu ingin jadi dokter, guru, atau peneliti, kini banyak yang ingin jadi “influencer terkenal”, tanpa tahu apa makna influence yang sesungguhnya.

Kita mulai kehilangan generasi yang mau sabar belajar, karena mereka berpikir kesuksesan bisa diraih dalam satu malam lewat video pendek.

Bahkan, banyak dari mereka yang meniru gaya bicara kasar, candaan menjatuhkan, atau perilaku tidak sopan karena menganggap itu “lucu” dan “menarik perhatian”.

Media Sosial dan Krisis Etika Digital

Teknologi digital seharusnya mempermudah kehidupan.
Tapi tanpa etika, teknologi berubah jadi senjata yang mematikan karakter.

Coba lihat:
  1. Orang bersedih direkam, bukan ditolong.
  2. Orang susah dijadikan konten, bukan dibantu.
  3. Orang salah sedikit langsung dihujat, bukan diarahkan.
Inilah wajah baru masyarakat kita: semakin cepat berbagi, tapi semakin miskin empati.

Dalam dunia yang serba daring, empati perlahan digantikan oleh komentar, dan kebaikan diukur dari jumlah like, bukan ketulusan hati.

Kita tidak sadar bahwa algoritma membentuk cara berpikir kita, mengarahkan apa yang kita anggap penting, dan mengikis nilai kemanusiaan sedikit demi sedikit.

Bahaya Konten Tidak Berguna terhadap Etika dan Moral

Konten viral yang tidak bermakna bukan hanya masalah sepele.
Ia adalah racun yang halus, menurunkan standar moral secara perlahan.

Beberapa dampak nyatanya :

Saat konten kasar, menipu, atau melecehkan terus ditonton jutaan kali,
otak mulai menganggap itu wajar.

2. Menurunnya empati sosial.
Tragedi jadi hiburan. Orang lain menderita, tapi yang kita pikirkan: “berapa banyak views-nya?”

3. Krisis identitas anak muda.
Mereka kehilangan arah antara menjadi diri sendiri dan menjadi apa yang disukai orang lain.

4. Menurunnya kualitas pendidikan moral.
Guru bisa mengajar etika, tapi jika anak tiap hari menonton kebodohan yang dipuja, semua pelajaran itu hilang.

Saatnya Mengembalikan Moral Lewat Keteladanan

Moral tidak bisa dibangun lewat algoritma,

Kita harus mulai dari hal sederhana:
  1. Bijak menggunakan media sosial. Jangan asal share, jangan asal percaya.
  2. Beri ruang untuk konten bermanfaat. Dukung mereka yang menyebar ilmu, motivasi, dan nilai kebaikan.
  3. Bangun empati. Kalau lihat orang susah, bantu dulu sebelum ambil kamera.
  4. Didik generasi muda dengan akal dan hati. Bukan sekadar larangan, tapi ajarkan kenapa kebaikan itu penting.

Viral Boleh, Tapi Jarang yang Bermoral

Viral tidak salah — asal membawa nilai.
Teknologi bukan musuh — asal kita yang mengendalikan, bukan dikendalikan.

Jika setiap konten viral diisi dengan pesan kemanusiaan, tentang kebaikan, kejujuran, dan saling menolong.
Mungkin dunia digital tidak akan sekeras ini.

Mari kita mulai dari diri sendiri.
Gunakan jempol untuk berpikir, bukan menghakimi.
Gunakan kamera untuk menginspirasi, bukan mempermalukan.

Karena pada akhirnya, yang kita tinggalkan bukan jumlah viewers, tapi jejak moral di hati manusia.

Komentar