- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kita sering mendengar kalimat “Lā ilāha illallāh”, tiada Tuhan selain Allah. Tapi mari kita jujur sebentar: apakah kita benar-benar sudah memahami makna tauhid ini? Ataukah kita hanya mengucapkannya sebagai kebiasaan, sementara hati kita masih bergantung pada banyak hal selain Allah?
Inilah pertanyaan besar yang layak kita renungkan. Sebab, kalau kita mengaku umat Islam tapi belum menghayati tauhid secara utuh, sebenarnya kita belum merasakan inti dari agama kita.
Tauhid Bukan Sekadar Ucapan
Tauhid sejati bukan hanya soal kata-kata, tapi kesadaran penuh dalam hati dan tindakan kita sehari-hari. Tauhid berarti menempatkan Allah sebagai satu-satunya pusat harapan, cinta, dan ketakutan. Kalau masih ada sesuatu di luar Allah yang kita anggap lebih menentukan hidup kita—entah itu uang, jabatan, atau manusia lain—berarti tauhid kita masih belum murni.
Kalau kita renungkan, banyak dari kita mungkin masih meletakkan “tuhan-tuhan kecil” dalam hati. Ada yang menjadikan uang sebagai sumber kebahagiaan, ada yang menjadikan kedudukan sebagai sumber kehormatan, ada pula yang terlalu bergantung pada manusia lain. Padahal, tauhid mengajarkan bahwa hanya Allah yang berhak atas semua itu.
Dalil Qur’an tentang Tauhid
Untuk memahami tauhid lebih dalam, mari kita kembali ke Al-Qur’an. Ada beberapa ayat yang menegaskan dengan sangat jelas makna tauhid:
1. Allah Esa, Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan
Surah Al-Ikhlas (112:1–4):
قُلْ هُوَ اللّٰهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللّٰهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾
Artinya:
Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.
Ayat ini menegaskan dasar tauhid: Allah unik, tidak punya pasangan, dan tidak butuh siapa pun.
2. Allah Sumber Cahaya Kehidupan
Surah Al-Baqarah (2:257):
ٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ
Artinya:
Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.
Tauhid berarti yakin sepenuhnya bahwa hanya Allah yang mampu menyelamatkan kita dari kegelapan hidup.
3. Allah Tak Terjangkau Mata, Tapi Melihat Segalanya
Surah Al-An‘am (6:103):
لَا تُدْرِكُهُ ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَهُوَ يُدْرِكُ ٱلۡأَبۡصَٰرَ ۖ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ
Artinya:
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, tetapi Dia melihat segala penglihatan. Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
Tauhid mengingatkan kita bahwa Allah melampaui segala batas indra, tapi Dia selalu hadir dalam hidup kita.
4. Jangan Menjadikan Dunia Sebagai Tuhan
Surah Al-Baqarah (2:165):
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًۭا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّۭا لِّلَّهِ
Artinya:
Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan, mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman, sangat besar cintanya kepada Allah.
Di sini kita diingatkan: cinta terbesar kita seharusnya hanya untuk Allah, bukan untuk harta, jabatan, atau kekuasaan.
Baca juga : Filsafat Ajaran Islam Karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad: Jembatan antara Agama dan Ilmu Pengetahuan Modern
Tantangan Tauhid di Zaman Modern
Kalau kita jujur, zaman sekarang penuh godaan yang bisa merusak tauhid.
Materialisme – kita diajak percaya bahwa uang menentukan segalanya.
Kultus individu – seolah-olah manusia tertentu bisa jadi sumber kebenaran mutlak.
Teknologi dan dunia digital – meski bermanfaat, kadang kita menaruh kepercayaan penuh padanya seolah tanpa Allah hidup tak berjalan.
Tauhid mengajarkan kita untuk tetap sadar : semua itu hanyalah sarana, bukan tujuan. Hanya Allah yang menjadi sumber kekuatan dan penentu nasib kita.
Bagaimana Kita Menegakkan Tauhid?
Tauhid sejati bukan sekadar teori, tapi harus kita jalani. Ada beberapa langkah sederhana yang bisa kita terapkan:
- Membersihkan hati dari ketergantungan selain Allah – jangan biarkan sesuatu menguasai hati kita lebih dari Allah.
- Menghidupkan ibadah dengan kesadaran – shalat, doa, dan dzikir kita niatkan sebagai perjumpaan dengan Allah, bukan rutinitas kosong.
- Menumbuhkan cinta kepada Allah – semakin besar cinta kita pada Allah, semakin kecil dunia terasa di mata kita.
- Melihat Allah dalam setiap peristiwa – baik senang maupun susah, kita percaya semua datang dari Allah untuk kebaikan kita.
Kalau langkah ini kita jalani bersama, insyaAllah kita akan merasakan nikmatnya hidup dalam tauhid sejati.
Ada hal yang menarik dari artikel di atas, mungkin saat membaca tadi, kita merasa tulisan ini berasal dari ulama klasik atau cendekiawan muslim pada umumnya. Padahal, ada sebuah fakta menarik: semua penjelasan dan kutipan di atas saya sebagai penulis hanya menukiskan kembali secara sederhana dari sebuah buku berjudul Chashma-e-Ma’rifat (Mata Air Makrifat).
Dan penulisnya adalah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, seorang tokoh yang dikenal sebagai pendiri Jemaat Ahmadiyya.
Ya, gerakan yang sering dituduh sesat itu oleh kebanyakan orang.
Tapi mari kita jujur: kalau ajaran yang pendiri Ahmadiyya tulis adalah penguatan tauhid, ajakan kembali kepada Allah, dan menumbuhkan cinta terbesar hanya untuk Allah, apakah pantas kita menutup mata hanya karena stigma?
Bukankah lebih adil melihat dan meraskan isi ajarannya dulu, sebelum menempelkan label sesat ?
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya:
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” ( QS. Al-Qasas [28]: 56 )
Abd Rahman Ak
Baca juga : Islam Tidak Mengajarkan Kekerasan: Menilik Buku Murder in the Name of Allah
Chashma-e-Ma’rifat
Dalil tauhid Al-Qur’an
Hadis tentang tauhid
Hakikat tauhid
Makna tauhid yang benar
Makrifatullah
Religi
Tauhid dalam Islam
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar